Unex-Unex
Setiap orang punya "jalan"-nya masing-masing.
Yang kumaksud dengan jalan disini, bukan seperti jalan setapak, jalan besar, jalan kecil atau jalan yang setiap hari kita lalui, tetapi "sesuatu" yang setiap orang punya dan dipegang teguh sebagai sesuatu yang bisa dikatakan menjadi landasan hidup.
Dan "jalan" setiap orang itu unik. Jarang sekali di dunia ini, ada 2 orang atau lebih yang memegang teguh "jalan" yang sama 100%. Makanya, aku enggak heran kalau muncul istilah debat kusir untuk hal semacam ini. Ada kalanya, "jalan" yang dimiliki seseorang dianggap sebagai "sesuatu yang suci" dan harus ditiru. Dan ada kalanya, "jalan" yang dimiliki seseorang ditiru oleh orang lain, meskipun tidak bisa sampai 100%.
Dan ada kalanya seseorang kehilangan "jalan"-nya sendiri. Biasanya, mereka akan mengambil "jalan" yang lain, atau terkadang, pada beberapa orang, menjadi "gila", setidaknya untuk sementara waktu [tapi, tidak tertutup kemungkinan, ke-"gila"-an itu menjadi sesuatu yang permanen]. Yupe, aku-pun masih memiliki "jalan"-ku sendiri. Sampai akhirnya muncul beberapa kejadian yang membuat keyakinan akan "jalan" yang kupegang erat-erat sejak dulu . . . kini runtuh. Koq terkesan gampang ya ? Ingat peribahasa "karena nila setitik, rusak susu sebelanga" ? Kurang lebih seperti itu.
Dan sekarang, aku terlunta-lunta di tengah hutan metropolis ini. Mencari kebisuan yang ingin berbicara dan hitam yang merindukan cahaya, sambil menertawakan luka yang tak bisa disembuhkan.
